Penunjukan Komisaris BUMN: Politik, Apresiasi, atau Kualifikasi?


 Dalam dinamika pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia, penunjukan komisaris sering kali menjadi sorotan. Diskusi tentang apakah penunjukan ini didasarkan pada kualifikasi yang tepat atau lebih bersifat politik balas budi sering mengemuka, terutama ketika nama-nama pendukung atau orang-orang terdekat pemimpin terpilih diangkat ke posisi tersebut.

Salah satu contoh yang mencuat adalah kasus Riza Primadi, yang awalnya menjadi konsultan komunikasi untuk Joko Widodo saat pemilihan presiden 2014. Setelah menjadi staf khusus di Kementerian BUMN, Riza kemudian diangkat sebagai komisaris PT Kereta Api Indonesia (KAI), meskipun tidak memiliki latar belakang yang relevan di bidang kereta api.

Riza sendiri mengakui bahwa penunjukan tersebut awalnya mengejutkan baginya, namun ia memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk belajar dan memberikan kontribusi sebisa mungkin dalam perannya sebagai komisaris. Ia menegaskan pentingnya memberi waktu bagi komisaris-komisaris baru untuk membuktikan diri sebelum dihakimi oleh publik.

Namun demikian, polemik tetap timbul terkait apakah penunjukan komisaris BUMN seharusnya lebih didasarkan pada pengalaman dan kualifikasi yang tepat ataukah sebagai bentuk penghargaan atau kompensasi politik. Argumen yang diajukan oleh beberapa pihak menunjukkan bahwa kepercayaan dan hubungan personal sering kali menjadi pertimbangan utama dalam penunjukan ini, sementara yang lain mengkritik bahwa hal tersebut dapat mengorbankan profesionalisme dan tata kelola yang baik di BUMN.

Dari sudut pandang Riza, publik seharusnya memberi kesempatan kepada setiap komisaris baru untuk membuktikan diri sebelum dihakimi, meskipun pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua komisaris yang diangkat mampu memberikan kontribusi yang signifikan atau sesuai dengan harapan.

Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah dan semua pihak terkait untuk terus mempertimbangkan kualifikasi dan rekam jejak yang jelas dalam proses penunjukan komisaris BUMN, guna memastikan bahwa mereka yang menduduki posisi strategis tersebut mampu untuk menjalankan tanggung jawabnya secara optimal dan profesional.

Share
Like this article? Invite your friends to read :D
Post a Comment