Tekanan Daya Beli Meningkat, Fenomena "Chilean Paradox" Mengintai

 


Kondisi ekonomi kelas menengah hingga bawah di Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Di tengah stagnasi pendapatan dan inflasi bahan pangan yang masih tinggi, daya beli masyarakat semakin melemah. Fenomena "makan tabungan" atau menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari telah menjadi nyata di Indonesia, mirip dengan yang terjadi di negara Amerika Latin, terutama Chile. Fenomena ini dikenal sebagai "Chilean Paradox".

Pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak ditopang oleh konsumsi domestik. Menurut Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF, ketika daya beli masyarakat menguat, ekonomi akan tumbuh tinggi. Sebaliknya, jika daya beli melemah, pertumbuhan ekonomi akan melambat. Tauhid menjelaskan bahwa sistem ekonomi yang ditopang konsumsi lebih stabil dibandingkan dengan yang bergantung pada investasi atau ekspor-impor. Namun, untuk menjaga stabilitas ini, dibutuhkan upaya ekstra untuk mendorong kegiatan ekonomi agar tetap berkontribusi besar terhadap pertumbuhan. Saat ini, daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah sedang tertekan, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi tantangan.

Data terbaru dari Mandiri Spending Index per Mei 2024 menunjukkan bahwa tabungan masyarakat kelas menengah dan bawah terus menyusut. Tabungan kelas menengah turun dari sekitar 100 menjadi hanya 94, sementara tabungan kelas bawah turun drastis dari sekitar 80-an menjadi hanya 41,3. Sebaliknya, tabungan orang kaya di Indonesia meningkat sepanjang tahun. Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Muhammad Chatib Basri, telah berulang kali mengingatkan bahwa masalah kelas menengah ini harus segera diurus oleh pemerintah. Chatib menegaskan bahwa pemerintah perlu fokus memperhatikan kondisi ekonomi dan kepentingan kelas menengah Indonesia.

Fenomena "Chilean Paradox" mengacu pada situasi di Chile, di mana meskipun ekonomi negara tersebut tumbuh pesat dan kemiskinan menurun drastis, terjadi kerusuhan sosial pada Oktober 2019. Kerusuhan ini dimotori oleh kelas menengah yang merasa diabaikan oleh kebijakan pemerintah yang terlalu fokus pada masyarakat termiskin. Chatib menambahkan bahwa hal serupa bisa terjadi di Indonesia jika pemerintah tidak segera memperhatikan kepentingan kelas menengah yang juga terdampak oleh inflasi dan tekanan ekonomi.

Inflasi bahan pangan, minuman, dan tembakau mencapai 6,36% pada Mei 2024, jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi barang-barang konsumsi kelas atas seperti rekreasi dan budaya yang hanya 1,68%. Ketimpangan ini memperburuk daya beli masyarakat kelas menengah bawah. Didin, ekonom senior lainnya, menyatakan bahwa daya beli yang menurun dari kalangan masyarakat bawah harus menjadi perhatian serius pemerintah.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah perlu mengadopsi kebijakan yang lebih inklusif. Selain fokus pada pengentasan kemiskinan, diperlukan juga penciptaan kesempatan dan kesejahteraan untuk semua lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah. Didin mengungkapkan bahwa program bantuan sosial yang ada saat ini lebih banyak menyasar masyarakat miskin, sementara kelas menengah yang tertekan tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Jika kondisi ini terus dibiarkan, stabilitas politik dan sosial negara bisa terganggu. Penting bagi pemerintah untuk segera mengambil tindakan yang tepat guna menjaga stabilitas ekonomi dan sosial serta mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
 

Share
Like this article? Invite your friends to read :D
Post a Comment