Delapan Tahun Tanpa Panggilan, Kasus Peggi Setiawan Dipertanyakan


 Kasus hukum yang melibatkan Peggi Setiawan kembali mencuat setelah berbagai kejanggalan dalam penyelidikan dan proses hukum terungkap. Selama delapan tahun, tidak ada panggilan atau pemeriksaan terhadap pihak terkait, meskipun alamat rumah yang jelas telah diberikan kepada pihak berwenang.


Pada tahun 2016, satu minggu setelah kejadian, polisi sudah memiliki foto pelaku yang diambil dari sebuah hajatan. Namun, saat pengumuman Daftar Pencarian Orang (DPO) dilakukan pada Mei 2024, foto tersebut tidak ditampilkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang keyakinan polisi terhadap identitas pelaku.


Terdapat keraguan terkait proses penangkapan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi. Seorang saksi, Saka Tatal, mengungkapkan bahwa foto yang ditunjukkan oleh polisi berbeda dengan orang yang ditangkap. Ini menunjukkan adanya ketidakjelasan dalam penetapan identitas pelaku. Lebih lanjut, beberapa barang bukti seperti ijazah, rapor, Kartu Indonesia Pintar, kartu keluarga, dan STNK diambil tanpa izin dari ketua pengadilan negeri setempat. Padahal, menurut hukum, izin tersebut diperlukan, terutama untuk barang-barang yang bukan termasuk barang bergerak dan tidak dalam keadaan mendesak.


Bukti yang digunakan oleh penyidik sebagian besar berdasarkan keterangan saksi yang tidak pasti. Misalnya, saksi Sudirman hanya mengandalkan ingatan untuk mengidentifikasi Peggi Setiawan, sering kali menggunakan frasa "seingat saya" dalam keterangannya. Hal ini menunjukkan ketidakpastian yang tinggi dalam penentuan identitas pelaku.


Tidak ada bukti ilmiah seperti tes DNA atau sidik jari yang dilakukan untuk menguatkan tuduhan terhadap Peggi Setiawan. Barang bukti seperti helm, sepeda motor, dan bambu tidak diuji lebih lanjut untuk menemukan bukti ilmiah yang bisa memperkuat atau melemahkan tuduhan. Selain itu, tidak ada bukti yang jelas mengenai bagaimana dan kapan pembunuhan berencana tersebut direncanakan, siapa yang terlibat, dan apa motifnya. Dalam dakwaan dan putusan pengadilan, tidak terungkap secara jelas bagaimana perencanaan pembunuhan tersebut dilakukan.


Kasus Peggi Setiawan menimbulkan banyak pertanyaan tentang keabsahan proses hukum dan penyelidikan yang dilakukan. Kebenaran perlu diungkapkan kepada publik agar keadilan dapat ditegakkan. Ini adalah momen penting untuk membongkar seluruh fakta yang ada dan memastikan bahwa proses hukum berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan.

Share
Like this article? Invite your friends to read :D
Post a Comment