Susno Duadji: Integritas dan Kontroversi dalam Kariernya di Kepolisian


 Komjen. Pol. (Purn.) Drs. H. Susno Duadji, S.H., M.Sc. (lahir 1 Juli 1954) adalah seorang tokoh kepolisian Indonesia yang dikenal karena integritas dan keberaniannya dalam mengungkap kasus-kasus besar. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri dari tahun 2008 hingga 2009.

Susno Duadji adalah lulusan Akademi Kepolisian (Akabri) tahun 1977. Sepanjang kariernya, beliau telah menduduki berbagai jabatan penting, termasuk sebagai Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Kapolda Jawa Barat sebelum akhirnya menjabat sebagai Kabareskrim Polri. Selama kariernya, Susno dikenal karena keberaniannya dalam mengungkap kasus-kasus korupsi dan mafia hukum, termasuk kasus besar seperti kasus Bank Century dan kasus pajak Gayus Tambunan.

Namun, kiprah Susno Duadji tidak lepas dari kontroversi. Beliau pernah terlibat konflik dengan beberapa petinggi Polri dan menjadi tersangka dalam kasus suap. Meskipun demikian, beliau akhirnya dibebaskan dari segala tuduhan oleh pengadilan.

Setelah pensiun dari kepolisian, Susno tetap aktif dalam kegiatan sosial dan politik. Beliau juga aktif menulis buku dan menjadi pembicara publik. Pada tahun 2023, beliau mencalonkan diri sebagai bakal calon legislatif (bacaleg) DPR RI melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Dalam hal pendidikan, Susno Duadji merupakan lulusan Akabri Kepolisian dan telah menempuh berbagai pendidikan lanjutan, termasuk PTIK, S-1 Hukum, S-2 Manajemen, dan Sespati Polri. Beliau juga pernah mengikuti berbagai pelatihan di dalam dan luar negeri.

Di kehidupan pribadinya, Susno Duadji menikah dengan Herawati dan dikaruniai dua orang putri.

Susno Duadji memang pernah menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi dan penyalahgunaan wewenang, namun pada akhirnya beliau dibebaskan dari segala tuduhan oleh pengadilan. Dalam kasus korupsi penanganan perkara PT Salmah Arowana Lestari (PT SAL), beliau dituduh menerima suap sebesar Rp 500 juta dari Haposan Hutagalung, pengacara PT SAL, terkait penanganan kasus sengketa kepemilikan saham perusahaan tersebut. Pada 24 Maret 2011, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) memvonis Susno Duadji bersalah dan menjatuhkan hukuman penjara selama 3,5 tahun dan denda Rp 200 juta. Beliau mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta (PT DKI) yang pada 9 November 2011 menguatkan putusan PN Jaksel. Kemudian, pada 22 Februari 2013, Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi Susno Duadji dan menguatkan putusan PT DKI. Setelah mengajukan Peninjauan Kembali (PK) pada 15 April 2015, MA mengabulkan PK Susno Duadji dan membebaskannya dari segala tuduhan, menilai bahwa bukti-bukti yang diajukan jaksa tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa Susno Duadji menerima suap.

Dalam kasus penyalahgunaan wewenang terkait penyitaan 23 kontainer berisi ikan arwana milik PT SAL tanpa prosedur yang sah, Susno Duadji juga divonis bersalah oleh PN Jaksel pada 24 Maret 2011 dengan hukuman penjara selama 3,5 tahun. PT DKI menguatkan putusan ini pada 9 November 2011 dan MA juga menolak kasasi Susno Duadji pada 22 Februari 2013. Namun, pada 15 April 2015, MA mengabulkan PK Susno Duadji dalam kasus ini dan membebaskannya dari segala tuduhan, menilai bahwa tindakan Susno Duadji adalah tindakan yang sah dalam rangka penegakan hukum.

Meskipun Susno Duadji pernah divonis bersalah oleh pengadilan tingkat pertama dan pengadilan tinggi, akhirnya beliau dibebaskan dari segala tuduhan oleh Mahkamah Agung melalui putusan PK. MA menilai bahwa bukti-bukti yang diajukan jaksa tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa Susno Duadji bersalah.

Susno Duadji adalah sosok yang kontroversial namun tetap dihormati karena integritas dan keberaniannya dalam memberantas korupsi dan mafia hukum. Kiprahnya di dunia kepolisian dan pasca-pensiun telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi Indonesia.

Share
Like this article? Invite your friends to read :D
Post a Comment