Billboard Ads

Pemilu 2024: Dari Reformasi hingga Persepsi Politik Masa Kini

 


Jakarta, Represif.com - Sejak era reformasi, angka golongan putih (golput) di Indonesia cenderung mengalami fluktuasi yang menarik perhatian. Menurut pengamat politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Devi Darmawan, angka golput telah meningkat sejak beberapa pemilu terakhir.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), pada Pemilu 2004, persentase golput mencapai 20,24%, meningkat menjadi 25,19% pada Pemilu 2009, dan kembali turun sedikit pada Pemilu 2014 dengan angka 20,22%. Pengecualian terjadi pada Pemilu 2019, di mana angka golput mengalami penurunan signifikan.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah masyarakat yang golput pada 2019 sebanyak 34,75 juta atau sekitar 18,2% dari total pemilih yang terdaftar. Devi Darmawan menjelaskan bahwa penurunan angka golput pada tahun tersebut dapat diatribusikan pada polarisasi yang kuat di masyarakat terkait isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) dan agama. Kondisi tersebut membuat kelompok minoritas non-Muslim menggunakan hak suaranya sebagai bentuk dukungan terhadap salah satu kubu.

Namun, Devi menyoroti perubahan situasi saat ini. Tanpa adanya narasi politik identitas yang dominan, beberapa alasan membuat orang-orang berpotensi untuk golput pada Pemilu 2024.

Pertama, munculnya isu kecurangan di tahap awal pemilu telah berdampak pada penurunan kepercayaan pada institusi demokrasi, seperti partai politik dan aparat keamanan. Kedua, kurangnya kepercayaan pada capres-cawapres yang dianggap tidak mewakili suara pemilih, terutama dengan dominasinya gimik politik daripada adu gagasan. Ini dapat memengaruhi pemilih muda untuk memilih golput.

Ketiga, belum adanya pergerakan signifikan dari para tim sukses capres-cawapres dalam menarik suara pemilih muda. Pendekatan tradisional dengan mendekati perangkat desa atau tokoh masyarakat tidak terlalu efektif dalam mendekati pemilih muda yang mungkin lebih terkoneksi secara digital.

Devi Darmawan memprediksi bahwa jika kondisi seperti ini terus berlanjut, angka golput pada Pemilu 2024 kemungkinan akan serupa dengan pemilu sebelumnya, yaitu berada di kisaran 18%-20%.

Meskipun begitu, pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Nicky Fahrizal, mengatakan bahwa debat capres-cawapres masih memiliki potensi untuk mengubah keputusan pemilih. Jika capres-cawapres mampu menyajikan ide atau gagasan baru dalam sisa debat yang tersisa, kemungkinan pemilih menggunakan hak suara mereka masih terbuka. Namun, jika tidak ada terobosan inovatif, golput mungkin menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat. Seiring pemilu mendekat, peran debat dan penyampaian ide yang inovatif menjadi kunci dalam meraih dukungan pemilih.

Read Also
Share
Like this article? Invite your friends to read :D