Billboard Ads

Mengukir Sejarah Kampanye Tanpa Dana dan Kedekatan Emosional

 


Timor Tengah Selatan, Represif.com - Di tengah hiruk-pikuk kampanye politik yang seringkali dipenuhi dengan baliho besar dan janji-janji manis, terdapat satu sosok yang memilih jalur yang berbeda. Mama Aleta, seorang calon legislatif (caleg) di Daerah Pemilihan NTT II, mungkin bukanlah nama yang dikenal luas, tetapi caranya dalam memimpin kampanye patut mendapat perhatian.

Banyak yang terkejut saat Mama Aleta, atau akrab disapa Mama Aleta, awalnya menolak permintaan para tetua adat Tiga Batu Tungku untuk maju sebagai caleg. Ia mengungkapkan ketidakmampuannya untuk membiayai kampanye dan kekurangan kendaraan politik. Namun, tak lama kemudian, Partai Perindo memberinya kesempatan untuk maju, dan dia memutuskan untuk melangkah ke depan.

Dalam perjalanannya menuju kursi Senayan, Mama Aleta mengambil pendekatan yang unik. Dia tidak mengandalkan dana besar untuk spanduk atau baliho. Sebaliknya, bersama dengan tim kecilnya, ia mengunjungi kampung-kampung setempat setiap hari. Bersenjatakan tas kain yang berisi kopi, gula, dan sirih pinang, Mama Aleta menemui warga secara langsung.

Namun, sirih pinang bukan hanya sekadar taktik politik. Bagi Mama Aleta, sirih pinang adalah simbol persatuan dan tradisi masyarakat Timor. Lebih dari sekadar berkampanye, ia berusaha membangun hubungan langsung dengan masyarakat setempat. Setiap pertemuan dimulai dengan saling menempelkan hidung, sebuah tradisi lokal yang menggambarkan persaudaraan.

Kampanye Mama Aleta tidak hanya tentang memenangkan suara, tetapi juga tentang memperjuangkan agenda masyarakat adat. Dia yakin bahwa tidak ada yang dapat menggantikannya dalam mengusung hal ini di wilayahnya. Oleh karena itu, setiap kesempatan bertemu dengan warga dijadikannya momen untuk berbagi cerita, mendengarkan masukan, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Tidak seperti caleg lain yang terjebak dalam janji-janji politik yang berlebihan, Mama Aleta memilih untuk berbicara dengan tindakan. Dia menolak untuk memberikan janji-janji kosong kepada pemilihnya. Sebaliknya, ia berharap untuk mendapatkan dukungan dengan membangun kepercayaan dan kedekatan dengan masyarakat.

Dalam sebuah kunjungannya ke Desa Biloto dan Desa Bijaepunu, Mama Aleta tidak hanya datang dengan kalender bergambar muka atau obrolan kosong. Dia membawa pesan kebanggaan dan harapan, memohon kepada warga agar memilih "anak Mollo" untuk mewakili mereka di DPR RI.

Dengan pendekatan yang sederhana namun kuat, Mama Aleta telah menarik perhatian banyak orang. Dia memperlihatkan bahwa dalam politik, keterlibatan langsung dan hubungan yang kuat dengan masyarakat dapat lebih berarti daripada baliho besar dan janji-janji kosong. Dalam dunia politik yang seringkali dipenuhi dengan intrik dan janji-janji kosong, Mama Aleta adalah sinar harapan yang menunjukkan bahwa ada cara lain untuk mewakili kepentingan rakyat.

Read Also
Share
Like this article? Invite your friends to read :D